Wednesday, October 26, 2011

KEBEBASANKU TELAH TERENGUT...

Ini tulisan saya bukan copas, sedikit agak curhat sih, tapi gak apa2 lah ya...

Tahun 1993 adalah tahun kelulusanku dari sebuah Fakultas Hukum di Universitas ternama di kota Bandung, titel sarjana hukum ini merupakan kebanggaan yang berhasil aku persembahkan pada kedua orang tuaku. Betapa tidak, karena dengan segala keterbatasan ekonomi bahkan hampir setiap semester aku kesulitan membayar SPP yang padahal nilainya pada waktu itu adalah Rp 90.000,00, aku berhasil menyelesaikan studiku dalam waktu 4 tahun. Dari kecil aku memang termasuk dalam kategori miskin sehingga aku bercita-cita ingin menjadi orang kaya, agar aku bisa membahagiakan kedua orang tuaku.

Tahun 1996 aku mengikuti tes PNS di sebuah Departemen yang punya tunjangan gaji paling tinggi diantara Departemen lainnya, alhamdulillah, karena doa kedua orang tuaku aku berhasil lolos menyisihkan saingan hampir 17.000 orang, sebuah jumlah yang sangat fantastis di masa itu.

Karena rahmat dan barokah dari Allah, aku berhasil meniti karier sampai menjadi seorang manajer kecil. Tahun 2007 Departemenku melakukan reformasi birokrasi yang kemudian berdampak pada remunerasi. pada saat itu tidak terperikan kebahagiaan menerima gaji sebagai seoerang PNS tapi gaji level manajer swasta. Tapi ternyata dibalik itu semua, konsekuensi disiplin yang tinggi, kompetensi yang juga selalu dituntut untuk terus meningkat serta hal-hal lain yang biasa diterapkan di perusahaan swasta, membuatku terengah-engah juga. Bayangkan, kegiatan rutin setiap hari yang ada di benakku adalah datang ke kantor tanpa terlambat, karena mesin absen sudah menunggu. Setelah itu kinerja dan target selalu dipantau, setelah itu kompetensi dipantau setiap 2 (dua) tahun sekali. Buatku sungguh tidak terbayangkan.

 Setahun, dua tahun aku sangat menikmati reformasi birokrasi dan masih merasakan manisnya bergelimang uang begitu pula keluargaku yang sangat mendukung kesuksesanku, tapi... sekarang, ketika anak beranjak akil baligh mulai terasa, bahwa ternyata waktu dan kebebasanku sudah direngut oleh yang namanya uang dan jabatan.
Haruskah aku bertahan disini? sementara anak-anak sangat membutuhkan perhatianku....uang memang dapat membeli segalanya tapi uang ternyata bukan segala-galanya, karena aku ternyata tidak bisa membeli kebebasanku, waktuku sudah habis untuk kepentingan kantor dan untuk kepentingan negara. Kepentingan keluargaku sudah kutukar dengan kepentingan negara. Saatnya untuk menentukan langkahku, apakah harus memilih sukses sendiri ataukah kesuksesan anak2ku. Mungkin aku akan memilih alternatif 2 karena anak bagiku adalah segala-galanya, mereka investasi bagi akhiratku, aku tidak ingin hanya gara-gara uang dan jabatan, di masa tuaku aku disia-siakan mereka, sebagaimana aku menyia-nyiakan mereka, aku tidak ingin ketika aku mati, tiada sebaris doapun terpanjat dari mulut anak-anakku karena mereka tidak tahu cara melantunkan doa, naudzubillah...